Menjadi Leader Tanpa Harus Terus Membuktikan Diri
Perjalanan menjadi seorang leader seringkali bukan tentang membuktikan diri, tetapi tentang menemukan cara yang lebih sehat untuk memimpin
Perjalanan seorang Leader
Salah satunya pengalaman yang saya temui adalah saat berdiskusi dengan seorang manajer muda yang baru mendapatkan tanggung jawab sebagai leader, dan ia harus bekerja dengan rekan kerja maupun stakeholder yang lebih senior
“Saya sering merasa harus benar-benar yakin sebelum menyampaikan ide. Kadang saya memilih diam karena khawatir usulan saya belum cukup kuat atau belum tentu diterima.”
Ia sebenarnya memahami pekerjaannya dengan baik. Ide-idenya juga tidak kalah dengan rekan yang lebih senior. Namun setiap kali memasuki ruang rapat, fokusnya bukan lagi pada bagaimana memberikan kontribusi terbaik, melainkan pada bagaimana memastikan dirinya terlihat cukup layak untuk didengarkan.
Yang menarik, pengalaman tersebut bukan hanya saya temui sekali. Dalam berbagai percakapan dengan para leader, saya cukup sering mendengar cerita yang serupa. Kompetensi bukanlah masalah utamanya. Justru mereka adalah orang-orang yang bekerja keras, mempersiapkan diri dengan baik, dan ingin memberikan hasil terbaik. Namun tanpa disadari, mereka juga menjadi orang yang paling keras menilai dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, saya kembali menemukan pola yang hampir sama, kali ini dari seorang women leader yang sudah cukup lama memimpin sebuah fungsi di organisasinya. Pengalamannya jauh lebih panjang. Posisinya juga lebih senior. Namun setelah sebuah meeting penting, ia berkata,
“Setelah meeting selesai, saya sering memikirkan kembali apa yang saya katakan. Apakah tadi saya terlalu banyak bicara? Apakah keputusan saya sudah tepat? Apakah saya seharusnya menyampaikan dengan cara yang berbeda?”
Pertanyaannya berbeda.
Tahap kariernya juga berbeda.
Namun saya melihat pola yang sama.
Mereka sama-sama menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri.
Ketika Standar Diri Menjadi Beban yang Tidak Terlihat
Selama mendampingi berbagai leader, saya semakin menyadari bahwa banyak leader memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap pekerjaannya. Mereka datang ke meeting dengan persiapan yang matang, memikirkan berbagai kemungkinan, dan berusaha memberikan keputusan yang terbaik.
Namun ada satu hal yang sering muncul dalam percakapan-percakapan tersebut.
Mereka lebih mudah melihat kekurangan dirinya dibandingkan apa yang sebenarnya sudah berjalan dengan baik.
“Don’t beat yourself too hard”
Itu adalah kata-kata yang saya sampaikan ke para leader ini. Tidak salah bila memiliki standar tinggi. Justru standar itulah yang sering membawa mereka sampai ke posisi sekarang. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai standar tersebut berubah menjadi beban yang terus dibawa sendiri.
Sebuah Sudut Pandang yang Menarik
Saat mencari referensi saya menemukan konsep Centered Leadership dari McKinsey dan gagasan Self -Compassion dari Kristin Nelf. Keduanya mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kompetensi, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir sebagai seorang leader.
Pertanyaan Yang Merubah Arah Percakapan
Di atas semua pencapaian, ada satu pertanyaan sederhana yang bisa direnungkan
" Kalau tujuan anda bukan lagi membuktikan bahwa Anda layak berada di posisi ini, leader seperti apa yang Anda ingin dikenal?
Sebelum Menutup Hari
Cobalah berhenti sejenak setelah meeting atau menjelang hari akhir kerja.
Cukup tanyakan pada diri sendiri
- “Apa yang sudah saya lakukan dengan baik?”
- “Apa satu hal yang ingin saya tingkatkan pada kesempatan berikutnya?”
Kita tetap belajar. Kita tetap berkembang. Tetapi tanpa harus terus-menerus menjadi pengkritik bagi diri sendiri.
Sebuah Refleksi
Semakin lama saya mendampingi para leader, semakin saya percaya bahwa kepemimpinan bukan tentang selalu memiliki jawaban terbaik.
Melainkan tentang tetap tumbuh dan memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik, agar kita memiliki energi dan kejernihan untuk terus memimpin
Jika Topik Ini Menarik untuk Anda…
Beberapa bacaan yang saya rekomendasikan
- Centered Leadership: How Talented Women Thrive — McKinsey & Company
- Self-Compassion — Kristin Neff